Selasa, 26 Maret 2013

Hantu Nakal


Sudah lama sepupuku menginginkan sebuah mobil. Walaupun dia tidak bekerja dan belum begitu menguasai kendaraan roda empat, tapi dia tetap bersikeras meminta mobil kepada suaminya dengan alasan mengantar-jemput anaknya ke sekolah.

Hari itu aku mendapat sebuah pesan singkat darinya, “Chel, nanti sore antar aku dan anak-anak ke rumah sakit ya. Ada salah satu anggota keluarga dari pihak suami yang dirawat disana.” Terus terang aku agak malas pergi kemana-mana. Selain karena anakku masih berumur 3 bulan, aku sangsi suami akan memperbolehkan aku pergi. “Sorry banget, Mi.
Kamu kan tau anakku masih bayi. Dan suami kayaknya gak bakal ngijinin deh. Kenapa gak minta anter suamimu aja?” kataku keberatan. “Abang (sebutan untuk suaminya) kan dinas keluar kota. Enggak enaklah aku kalo hari ini gak besuk kesana. Tolonglah…..Kau juga bisa ajak suami dan anakmu ikut. Kita kan naik mobil. Tapi kau yang setir ya. Aku belum pandai bawa mobil jauh dari rumah. Kujemput kau 30 menit lagi.” Katanya memaksa. Mana mungkin aku mau bawa anakku. Rumah sakit kan banyak kuman penyakitnya. “Kali ini aku minta maaf, aku benar-benar tidak bisa bantu.” Ujarku lalu menyudahi pembicaraan.

Tak berapa lama dari saat aku menutup telpon dari sepupuku itu. Tiba-tiba kudengar suara mesin mobil dimatikan di depan rumahku. Menyusul suara anak-anak kecil (kisaran umur 3-5 tahun). Aku mengintip dari kaca jendela rumah dan terkejut sekaligus kesal setelah melihat Rumi (sepupu yang baru saja meneleponku) beserta 2 orang anaknya memasukki halaman rumah. Suamiku membukakan pintu untuknya. Setelah basa basi sebentar, Rumi meminta ijin (dengan sedikit memaksa) kepada suamiku agar mengijinkan aku pergi mengantarnya ke rumah sakit saat itu juga. Suami melirik ke arahku dengan senyum kecut dan (terpaksa) memperbolehkan aku pergi sebentar. Dengan senyum jumawa Rumi menyerahkan kunci mobil kepadaku. Key dan Mey anak-anaknya teriak kegirangan sambil bergelayutan manja di tanganku. Aku hanya menatap masygul anak dan suamiku (yang saat itu menatap Rumi dengan tatapan sebal).

Seperti hari-hari biasa di kota metropolitan ini selalu terjebak macet dimana-mana. Terlebih saat ini adalah hari Minggu. Mobil hanya melaju sedikit, lalu berhenti. Posisi hampir semua kendaraan disana sudah tidak beraturan. Saling memotong jalur kendaraan lain sudah hal yang biasa. Aku harus berkonsentrasi penuh agar tidak menabrak atau menyenggol kendaraan di sekitarku yang jaraknya mungkin hanya beberapa centimeter saja….STRES!!

Kulirik sekilas Rumi yang duduk di sebelahku sedang memangku Mey yang berusia 3 tahun sambil asik bercanda dan menunjuk-nunjuk papan reklame yang ada hampir di sepanjang jalan itu. Kulihat dari kaca spion si Key duduk diam tepat di belakangku sambil memainkan gadget…Hmmm, anak jaman sekarang. Aku menghela nafas pelan dan mencoba konsentrasi lagi dengan kemacetan yang ada di hadapanku saat itu. Tiba-tiba sepasang tangan anak kecil merangkul erat leherku dari belakang. Aku tersenyum dan berkata “Jangan kencang-kencang Key. Nanti Tante sesak nafas.” Tanpa mengalihkan pandanganku dari depan. Dan mobil-mobil mulai bergerak perlahan. Namun rangkulan itu semakin kuat dan kencang sehingga membuat leherku sakit. “Key, sudah! Leher Tante sakit” perintahku sambil perlahan menjalankan mobil. Bukannya melepaskan malah justru semakin kencang dan erat tangan itu merangkul leherku. Aku mulai kesulitan untuk bernafas. Kepalaku pusing dan nafasku tersenggal. Kucoba untuk meraih tangan yang kurasakan sangat dingin di leherku dengan tangan kiriku sambil terus menjalankan mobil. Namun aku tak dapat menyentuh apa-apa.

Aku melirik ke kaca spion dihadapanku. Alangkah terkejutnya aku saat melihat di belakangku sosok anak lelaki dengan wajah menyeringai jahat sedang merangkulku dari belakang. Lama kelamaan wajah anak itu meleleh seperti lilin yang terbakar dan mengeluarkan bau anyir sekaligus bau sangit daging hangus. Tanganku berusaha meraih Rumi yang ada disebelahku. Tapi seolah Rumi berada sangat jauh dari jangkauanku. Dan Rumi sama sekali tak memperdulikan suaraku yang tercekik, seperti ada dinding tebal tak kasat mata diantara kami. Aku tak tahan lagi. Nafasku hampir habis. Segera kubanting stir ke kiri sehingga menyebabkan pengendara mobil lain di belakangku kaget dan membunyikan klakson berkali-kali. Tak kuhiraukan beberapa dari mereka yang mengumpat sambil melewatiku. Rumi, Key dan Mey kaget lalu bertanya ada apa. Dengan nafas tersenggal aku hanya menjawab “Sepertinya ada serangga masuk ke tenggorokkanku sehingga menyebabkan aku tersedak.” Aku tidak ingin membuat mereka ketakutan saat itu.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Rumi meneleponku. Aku mendengar suaranya bergetar ketakutan. Dia bertanya apa yang sebenarnya terjadi padaku kemarin. Terus terang aku keberatan untuk menceritakan ini semua. Toh setan kecil itu sudah tidak menggangguku lagi. Tapi Rumi terus memaksaku bercerita. “Chel, dari semalam aku gak bisa tidur. Aku beberapa kali melihat sosok anak kecil seperti yang kau ceritakan itu berdiri di atas kasurku.Setiap kali aku ingin menghampirinya, tiba-tiba ia menghilang.  Mana aku tidur sendirian pula. Parahnya lagi, Key dan Mey juga mengalami hal serupa. Tolong, Chel. Kau bisa usir dia kan?!” todong Rumi kepadaku. Aku bingung. Apa yang sebenarnya mahkluk astral itu inginkan dari kami. Pertama aku, lalu Rumi dan anak-anaknya.

Aku bertanya apa pernah bertemu dengan seseorang yang mirip dengan anak itu sebelumnya. Apakah mobil yang dia beli itu adalah mobil bekas. Dan apakah pernah menabrak anak kecil sehingga menyebabkan kematian. Dan semua jawabannya adalah tidak. Aku hanya bisa menyarankan agar Rumi dan anak-anak tidur sekamar untuk sementara dan mengundang orangtua atau mertuanya untuk menginap.

Malam harinya saat aku ingin memposting kisahku ini di dalam blog pribadi, tiba-tiba aku merasakan hawa di dalam kamarku sangat panas dan pengap. Aku melihat ke arah AC dalam kamar. Sepertinya tidak ada kerusakan apapun. Bahkan AC itu baru saja di service. Dan dalam hitungan menit hawa panas itu berubah menjadi sangat dingin. Firasatku mulai berkata ada yang tidak beres di dalam ruangan ini. “hihihi…” suara tawa lirih anak kecil terdengar jelas dari telingaku sebelah kiri. Lalu kulihat sepasang tangan merangkul leherku dari belakang. Itu dia! Aku mencoba untuk tenang dan memusatkan pikiranku. “Apa yang kau mau?” tanyaku tanpa basa basi. “Pengen maiiin…ikut aku yuk, tante. Ikut aku main. Yuuk…”katanya sambil mempererat rangkulan tangannya di leherku. “TUNGGU!! Siapa kau? Dan apa maumu? Aku tak pernah berurusan denganmu sebelumnya bukan?!” tanyaku. “Aku kesepian disana. Aku pengen punya teman.” Jawab anak itu seolah tak menjawab pertanyaanku. “Hei! Kuulangi sekali lagi. Siapa kau dan apa maumu?!” tanyaku setengah membentak. Ku alihkan pandanganku ke arah suara itu berasal. Kulihat sebagian wajah yang sama seperti hari sebelumnya. Aku merasa dia juga menatapku saat itu.

Anak itu melepaskan rangkulannya dan melayang ke hadapanku. Tatapan matanya menyiratkan kesedihan. Namun entah mengapa aku begitu waspada terhadapnya. “Tante benar-benar mau tau siapa aku?” tanya anak itu sambil duduk melayang di atas kasur. “Eee…Hem.” Jawabku sedikit ragu.  Kedua tangannya maju seakan ingin meraih kepalaku. Kucoba mengibaskan tangan itu, tapi hanya angin yang kusentuh. Tangan itu terus mendekat dan seolah memegang kepalaku…bukan! Memegang isi kepalaku !! Karena tangan itu menembus begitu saja ke dalam kepala. Kulihat seperti ada layar besar 3 dimensi terpampang di hadapanku saat itu. Aku seolah berada di tengah keramaian orang-orang yang lalu lalang. Seketika aku mengenali lokasinya. Lokasi yang tak jauh dari kejadian aku dicekik oleh mahkluk astral sialan itu.

Hei…aku melihatnya. Dia si anak kecil itu sedang berdiri diantara lalu lalang manusia yang berjalan seolah tak ada yang memperhatikan kehadirannya. Matanya sesekali menatap tajam beberapa orang yang lalu lalang di hadapannya. Penampilannya lusuh dan kotor. Di bahunya tersampir kantung besar yang kelihatan sangat kotor. Dan tangan kirinya memegang besi panjang dengan ujung melengkung. Sepertinya dia seorang pemulung sampah. Aku terus menatapnya dalam hening. Saat ada seorang ibu setengah baya melewatinya. Secepat kilat dia merampas tas milik ibu itu dan berlari kencang ke arahku. Ibu itu berteriak “COPEET!!” dan beberapa pemuda berusaha mengejarnya. Anak itu berlari semakin kencang ke arahku. Aku panik dan ingin lari, namun tak kuasa bergerak sedikitpun. “TIDAK!!” teriakku dalam hati saat tubuh anak itu menembus tubuhku dan tetap berlari menyeberangi jalan tanpa memperdulikan kendaraan yang lalu lalang. Lalu….CIIIT!!! BRAK!! Bersamaan dengan berhentinya sebuah mobil yang mirip dengan milik Rumi sepupuku, tubuh anak itu terpental beberapa meter dan jatuh bersimbah darah.

Mayat anak itu dibawa ke rumah sakit terdekat. Malangnya tak ada seorangpun yang dapat dihubungi. Seorang pemulung kecil yang tinggal di emperan jalan, dan terbiasa hidup sendiri. Tidak ada yang tau pasti dimana keluarganya. Pengemudi yang menabrak hanya membayar pihak rumah sakit agar melakukan proses kremasi. Mungkin proses kremasi lebih mudah, cepat dan pasti lebih murah dibandingkan proses pemakaman biasa. Entahlah…

Aku menyaksikan mayat anak itu dimasukkan ke dalam sebuah laci pendingin (aku tidak tau apa namanya). Dan setelah seluruh tubuhnya bersih, lalu dimasukkan ke dalam kotak oven dengan api yang menyala. Tubuh anak itu habis terbakar. Hanya tersisa serpihan tulang-tulang. Aku hanya termangu menatap itu semua sebelum akhirnya aku kembali ke dalam kamar tidurku lagi. Masih di posisi semula. Kami saling berhadapan. Tapi kali ini dia duduk melayang dengan posisi santai. Kedua tangannya menyangga belakang kepala, dan kedua kakinya menyilang sambil digoyang-goyang. Bibirnya tersenyum tipis, dan matanya terpejam. Gayanya seperti bos besar. Entah kenapa aku tetap tidak menyukainya.

“Apa karena mobil yang telah menabrakmu itu mirip dengan mobil sepupuku, lalu kau nyelonong masuk ke dalam mobil itu?” tanyaku. “Iya. Kupikir memang itu mobil yang sama. Aku ingin buat perhitungan dengan orang yang telah membunuhku.” Jawabnya penuh dendam. “Kau salah jika berpikir seperti itu. Orang itu tidak berniat membunuhmu. Dia menabrakmu karena kau yang berlari tanpa memperdulikan kendaraan yang lalu lalang.” Bantahku sengit. “Aku lari karena hampir dikeroyok.” Bentaknya tak kalah sengit. “Bukan! Kau lari karena habis mencopet!” tegasku mengingatkan. Dia menatapku tajam, dan lalu tersenyum nakal. GGRRRR…aku benar-benar tidak menyukainya. Kalau saja dia dapat kusentuh. Pasti sudah kugetok kepalanya pake sepatu. “Aku suka disini.” Ujarnya sambil menatap sekeliling. “Tapi aku tak suka kau disini.” Jawabku datar sambil meraih HP-ku. “Tak masalah. Aku bisa tinggal di lahan kosong sebelah rumahmu.” Jawabnya tanpa memperdulikan teriakan protesku. Dia langsung pergi dan menghilang di balik tembok kamar.

Sampai sekarang setan yang menyebalkan ini masih sering kulihat di lahan kosong itu. Hanya berdiri, berseringai nakal kepadaku, atau bahkan menjulurkan lidahnya lalu kabur menghilang. HAH!! Biarlah. Selama dia tidak mengganggu keluargaku dan tetangga sekitar. Inilah kisahku yang kualami dari hari Minggu (2 hari yang lalu) hingga sekarang.
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar