Minggu, 24 Februari 2013

Jalan Angker ke Kampungku 3 (Kerajaan Jin Minta Korban?)


Assalamu’alaikum Wr.Wb

Ini masih edisi jalan angker ke kampungku. Cerita ini kejadiannya udah sangat lama, waktu aku masih sekolah dasar. Buat akang teteh yang belum membaca jalan angker ke rumahku, bisa klik disini part 1 dan part 2. Sebenarnya tidak berhubungan c, tapi biar tahu ja gitu gang C kaya gimana.. hee

Ooo

Seperti yang pernah aku ceritakan, kalau ke kampungku kita harus melewati tanjakan gang C, perkampungan, persawahan, dan barulah sampai di kampungku. Nah, di ujung persawahan ini dulu ada sebuah pohon yang sangat besar dan tua, namanya pohon ‘sengon’. Pohon ini terkenal sangat angker. Banyak yang melihat penampakan atau pun hanya sekedar suara-suara aneh disana. Untunglah kalau ke rumahku tak perlu melewati pohon sengon itu, soalnya kalau rumahku ada di kampung kidulnya, sedangkan kalau melewati pohon sengon bagi yang rumahnya di kampung kalernya.

Namun walaupun tak melewati pohon itu, banyak juga warga yang diganggu. Biasanya gangguannya berupa suara tepukan tangan, atau suitan dari arah pohon sengon. Masyarakat percaya kalau kita sampai menengok atau meladeni godaan mereka maka kita akan dibawa oleh jin itu. Menurut orang pintar, di pohon sengon itu terdapat sebuah kerajaan jin. Sudah ada banyak warga yang meninggal, yang kata orang pintar sebenarnya dibawa oleh jin itu untuk dijadikan pengawal atau pembantu di kerajaannya. Entahlah benar atau tidak. Yang jelas aku sering diwanti-wanti jika ada suara-suara aneh atau tepukan atau suitan layaknya seperti beberapa pria di jalan menggoda, jangan diladeni, teruslah berjalan jangan menengok ke arah pohon itu atau asal datangnya suara tersebut.

Karena sudah banyaknya warga yang diganggu penghuni sana, dan ada beberapa warga meninggal secara tidak wajar, yang katanya dibawa oleh jin disana, masyarakat menjadi resah. Akhirnya berdasarkan musyawarah warga, diputuskan untuk menebang pohon tersebut. Singkat cerita dipanggillah orang pintar kesana. Namun sepertinya ilmu orang itu tidak bisa menandingi kehebatan ilmu jin tersebut. Tidak ada peralatan satu pun yang  berhasil merobohkan pohon itu. bahkan dengan peralatan yang paling canggih pun kayu itu tak bisa terbelah, bahkan lecet pun tidak. Telah dicoba berbagai cara, namun tak ada yang berhasil satu pun. Akhirnya diputuskan untuk mengakhiri dulu penebangannya, dan dicoba lagi esok harinya.

Namun alangkah terkejutnya kami, ketika mendengar bahwa orang pintar dan orang lain yang membantu untuk menebang pohon tersebut semuanya sakit, dan beberapa hari kemudian meninggal. Warga percaya mereka dibawa oleh jin penunggu disana. Masyarakat pun semakin resah, namun sepertinya untuk Pak Omat (samaran) rasa marah lebih mendominasi dibanding rasa cemas dan takut.

Pak Omat dengan lantang berkata, “Ya udah kalau gitu kita bakar ja tuh pohon, biar gak ada korban lagi.” Pak Omat mengatakan dengan emosional kepada warga sekitar. Ketika ia pulang ke rumahnya, Pak Omat tiba-tiba saja sakit, dan beliau merasakan rasa panas yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.

“Panas, panas banget ini.” Itu yang dikatakan Pak Omat berkali-kali. Pak Omat pun seharian berendam di air namun ia masih merasakan panas yang teramat sangat. Bahkan semakin lama rasa panasnya semakin parah, seperti orang yang dibakar. Pak Omat kejang-kejang sambil terus berteriak, “Panas, panas, padamkan apinya.” Itulah yang Pak Omat katakan, padahal tak ada api di dekatnya.

Keluarga yang cemas pun berinisiatif memanggil orang pintar. Orang pintar itu mengatakan penyakit Pak Omat akibat ulah jin penunggu pohon sengon, karena Pak Omat mengatakan untuk membakar pohon tersebut, hingga ia lah yang merasakan rasa panas terbakar. Orang pintar itu mencoba untuk membantunya, namun sepertinya jin-jin disana sangat sakti mandraguna. Orang pintar itu pun kalah dan minta maaf karena sudah tak sanggup lagi. Banyak orang pintar yang dibawakan namun tak ada satu pun yang berhasil mengalahkan jin itu, hingga akhirnya Pak Omat menghembuskan nafas terakhirnya, masih dalam keadaan panas terbakar.

“Panas, panas padamkan apinya. Tolong aku minta maaf. Padamkan apinya tolong.” Itulah yang Pak Omat katakan untuk terakhir kalinya.

Kematian Pak Omat menjadikan warga semakin resah. Tak ada satu pun warga yang berani bicara macam-macam. Namun kami juga ingin terlepas dari gangguan pohon itu. Akhirnya diputuskan untuk mendatangkan lagi orang pintar, sebut Pak Zadi, untuk menebang pohon tersebut. Namun kali ini tak ada warga yang berani membantu menebang pohon itu. Akhirnya Pak Zadi sendirian mencoba menebang pohon tersebut, dengan disaksikan warga dari jarak agak jauh.

Saat pohon itu dikapak, tidak seperti yang pertama, kayunya sekarang bisa somplak sedikit. Namun alangkah terkejutnya kami karena ternyata  yang keluar dari pohon tersebut adalah darah, bukannya getah seperti pohon lainnya. Namun Pak Zaid tak takut, ia terus mencoba menebang sampai akhirnya ia merasakan nyeri yang amat sangat hingga ia roboh. Warga pun segera membawa Pak Zaid. Pak Zaid sakit berhari-hari, tapi untunglah ia masih dilindungi dan ditolong oleh Yang Kuasa, sehingga ia bisa sembuh kembali. Namun Pak Zaid mengatakan ia tak sanggup lagi menebang pohon itu.

Semenjak itu tak ada satu pun orang yang berani menebang pohon sengon. Warga semakin resah, takut jin itu menginginkan kembali korban. Banyak warga yang tak berani berkata sembarangan, bahkan melewati pohon itu pun tak berani, lebih baik jalan muter dulu ke kampung kidul. Namun masih ada warga yang berani melewati pohon itu walaupun setelah peristiwa-peristiwa yang terjadi, salah satunya bi Dati (samaran). Bi Dati ini adalah salah satu saudara Pak Omat.

Saat itu bi Dati melewati pohon sengon. Tentu saja keadaannya sangat sepi, namun Alhamdulillah tak ada kejadian ganjil terjadi. Namun sesampainya di rumah, bi Dati tiba-tiba merasa tak enak badan, hingga akhirnya bi Dati sakit tak bisa bangun. Bi Dati terus terbaring di tempat tidurnya. Saat sakit itu bi Dati bermimpi.

Di mimpi itu Bi Dati mendatangi sebuah tempat yang asing. Dari kejauhan ia melihat sebuah istana yang sangat besar dengan pintu gerbangnya yang menjulang tinggi. Bi Dati mendekati istana itu perlahan-lahan. Saat sampai di depan pintu gerbang, ia terkejut melihat Pak Omat, saudaranya yang meninggal beberapa bulan lalu, sedang menjaga pintu gerbang itu.

“Wa Omat?”

Pak Omat pun menengok dan segera bertatapan dengan Bi Dati. Dari sorot matanya bi Dati tahu Pak Omat terkejut. “Bi Dati sedang apa disini?” itulah yang ditanyakan Pak Omat kala itu, dengan suara dan raut muka khawatir dan cemas.

“Wa Omat sendiri lagi ngapain? Bukannya uwa udah meninggal?” Bi Dati malah balik bertanya.

Pak Omat tidak menjawab, malah mengatakan, “Cepat pergi dari sini, sebelum mereka tahu.” Pak Omat berkata dengan tergesa sambil menengok ke arah belakang, seperti memastikan tak ada siapa-siapa.

“Tapi ini dimana?”

“Cepat, pergi dari sini.” Pak Omat mengatakan lebih mendesak. “Disini tidak enak, cape. Cepat pergi.”

“Tapi lewat mana? Aku gak tahu jalan pulang.”

“Jalan saja lurus, kalau ada percabangan pilih jalan sebelah kanan. Cepat pergi!” Pak Omat berkata semakin mendesak.

Dengan melirik terakhir kalinya ke arah Pak Omat, bi Dati pun mematuhi perintah Pak Omat dan tergesa-gesa menjauh dari tempat itu. Ia memilih jalan yang diperintahkan Pak Omat. Dan sampai di sebuah tempat yang sangat terang, lalu ia pun menemukan dirinya di kamarnya sedang dikerumuni oleh keluarganya.

Melihat Bi Dati yang sadar, keluarga menangis bahagia. Keluarga mengatakan kalau bi Dati telah beberapa hari ini tak sadarkan diri, dan tak ada orang pintar yang sanggup menolong Bi Dati. Bi Dati kaget mendengarnya. Ia pun segera bercerita tentang Pak Omat yang ia temui di sebuah istana yang sangat besar, sedang menjaga pintu gerbang. Banyak yang percaya, Pak Omat dibawa oleh jin dari pohon sengon untuk dijadikan penjaga pintu gerbang di kerajaannya. Mungkin jika Allah tidak melindungi dan menolong Bi Dati, Bi Dati pun bisa bernasib sama dengan Pak Omat. Wallahu’alam.

Dari situ jelaslah warga semakin cemas, karena mungkin saja kerajaan itu masih menginginkan korban untuk dijadikan pembantu di kerajaannya. Untunglah saat itu ada seorang kyai dari jauh, mendengar berita itu. Pak Kyai itu dengan niat menolong datang ke kampung kami. Kami pun dengan senaang hati dan antusias menyambutnya.

Singkat cerita Pak Kyai menyuruh kami sekampung untuk berdoa. Setelah itu dengan berdoa terlebih dulu Pak Kyai pun menebang pohon tersebut. Alhamdulillah sekarang pohon itu berhasil ditebang dan tak ada apa-apa yang terjadi.

Kata Pak Kyai jin-jin itu telah dipindahkan ke suatu tempat. Memang jin itu menolak dan menantang pak Kyai bertarung, namun Alhamdulillah Pak Kyai berhasil mengalahkan jin itu, hingga akhirnya mereka bersedia untuk dipindahkan. Sekarang pohon itu sudah tak ada, bahkan dekat bekas pohon sengon itu sekarang telah dibangun rumah penduduk.

Ooo

Ok, itu adalah salah satu cerita nyata di kampungku. Dulu juga ketika masih ada pohon sengon, saat teteh pulang malam sering ada suara suit-suit, dan tepukan tangan seperti mengajak teteh. Namun karena telah diwanti-wanti oleh ummi, teteh pun gak berani menengok.

Namun walaupun pohon sengon itu sudah gak ada, tetap aja melewati jalan itu masih lumayan angker, karena disitu ada air terjun kecil, tapi karena ada rumah gak terlalu seram dibanding dulu. Kalau aku sih memang jarang lewat sana, soalnya kalau ke rumahku yang di kampung kidul, lewatnya pemakaman. Tapi lewat jalan ini lebih seram, karena banyak yang melihat penampakan di pemakaman sana. Hemm.. akhirnya kalau udah malam aku gak berani deh lewat gang C, lebih baik naik ojeg ja. Walaupun jalan yang dilewati ojeg itu masih terkenal angker, setidaknya kan ngacir pake motor, kalau jalan sendiri lama. *loh kok jadi curhat*

Makasih buat akang teteh yang udah nyempetin baca
Maaf kalau tulisannya acak-acakan, kurang lebihnya mohon dimaafkan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Jalan Angker ke Kampungku 2


15 Februari 2013 — 41 komentar
Assalamu’alaikum Wr. Wb

Akang teteh ini adalah sambungan dari jalan angker ke kampungku. Buat yang belum baca part sebelumnya, sok klik disini.

ooo

Kejadian 4

Kejadian ini terjadi lumayan lama kurang lebih setahun yang lalu. Saat itu gang C mengalami longsor, hingga kurang lebih sepertiga jalan mobil tak bisa digunakan. Tebingnya runtuh bahkan beberapa anak tangga gang C yang dekat jalan mobil ikut runtuh, tak bisa digunakan. Karena musim hujan, tentu belum bisa diperbaiki karena takut longsor kembali. Setelah hujan tak lagi datang, akhirnya diputuskan segera diadakan perbaikan.

Singkat cerita telah beberapa hari jalan itu diperbaiki, semuanya berjalan dengan lancar. Cuaca pun juga mendukung. Para pekerja berada di bagian bawah jurang untuk menambal tebing-tebing itu dengan tanah. Tanpa ada firasat apapun, tiba-tiba tebing jalan tersebut longsor kembali hingga para pekerja terkubur timbunan tanah. Warga setempat yang melihat kejadian itu otomatis segera meminta bantuan warga lain untuk menolong para pekerja tersebut.

Akhirnya setelah dirasa cukup aman, tebing tak akan longsor kembali, warga pun berbondong-bondong menggali longsoran tebing. Dari lima pekerja hanya seorang yang dapat diselamatkan, sebut saja Pak K. Empat orang lagi sudah tak bernyawa. Pak K langsung dilarikan ke rumah sakit dengan angkutan umum. Tragisnya ternyata satu orang korban meninggal adalah saudara Pak K dan ia baru pertama kali ikut perbaikan jalan tersebut karena diajak oleh Pak K. Kontan Pak K merasa sangat bersalah. Namun itulah takdir, walau keluarga sangat berduka namun apa daya mereka harus ikhlas. Tapi warga setempat percaya bahwa kematian mereka tidaklah wajar, dengan kata lain mereka dijadikan tumbal jalan tersebut. Entahlah benar atau tidak, namun setiap tahun memang selalu ada yang meninggal di jalan itu, entah karena kecelakaan atau karena sebab lain. Wallahu’alam.

Sementara waktu perbaikan jalan tersebut dihentikan. Namun karena rute jalan itu cukup penting dan dikhawatirkan ada angkot yang jatuh ke jurang, kepala desa setempat setuju untuk meneruskan perbaikan jalan, dengan pekerja yang lain dan terlebih dulu diberikan wejangan untuk terus berdoa dan ingat pada Allah. Singkat cerita Alhamdulillah jalan tersebut telah lancar diperbaiki dan jalan pun telah seperti sedia kala.

Namun para pekerja mengaku saat perbaikan jalan banyak terjadi hal-hal ganjil. Ada yang melihat pekerja korban longsor ikut bekerja bersama mereka, ada yang tiba-tiba kopinya tinggal setengah padahal belum ia minum, dan kejadian-kejadian ganjil lainnya. Warga gang C pun ikut merasakannya. Hingga tersebarlah berita bahwa pekerja-pekerja korban longsor tersebut telah menjadi ‘hantu’. Hal ini juga dialami oleh salah seorang warga kampungku yang baru pulang kerja, sebut saja Bi Emi.

Bi Emi adalah seorang janda sehingga harus banting tulang untuk menghidupi anak satu-satunya. Ia bekerja di sebuah pabrik garmen. Waktu itu ia pulang sore hari sekitar jam 5, dan ia tahu sampai di gang C pasti telah maghrib. Sebetulnya ia sempat was-was untuk melewati jalan itu mengingat banyaknya berita yang menceritakan banyak warga yang telah melihat penampakan disana, terlebih setelah kejadian longsor itu. Namun karena Bi Emi ingin hemat, dengan memberanikan diri ia akan melewati gang C. Inilah kisahnya.

ooo

Angkot itu tidak penuh, hanya ada beberapa orang yang naik, dan itu pun telah banyak yang turun, hingga tinggal bi Emi dan dua orang lainnya. Saat melewati t****n d****a ada empat orang laki-laki menghentikan angkot dan naik ke dalamnya. Keempat laki-laki itu wajahnya pucat dan di sepanjang jalan mereka bertingkah aneh, tak selayaknya manusia normal lainnya. Mereka menunduk, tidak ngobrol atau nengok kiri kanan, bahkan bergeser pun tidak. Mereka seperti patung yang diangkut ke dalam mobil, bahkan saat ada polisi tidur pun badannya tidak melonjak ke atas, hanya sedikit bergerak. Padahal angkot-angkot di daerahku jalannya ngebut-ngebut. Kalau aku naik angkot saja suka bergeser kemana-mana duduknya sangking ngebutnya tuh angkot. Saat itu Bi Emi tak curiga apa-apa, lah mungkin mereka capek.

Singkat  cerita sebentar lagi angkot melewati gang C, otomatis Bi Emi siap-siap turun dan merogoh uang sepuluh ribuan untuk ongkos. Sebetulnya ongkos yang dikeluarkan dua ribu rupiah saja tapi saat itu ia tak punya uang kecil. Murah bukan? Padahal perjalanan sangat jauh.

Saat sampai di gang C Bi Emi segera berkata ‘kiri’ dan otomatis angkot itu berhenti. Saat Bi Emi akan turun, ternyata keempat orang tersebut ikut turun. Melihat itu hati Bi Emi sangat senang, “asyik ada teman.” Itulah yang dipikirkan Bi Emi kala itu.

Oh ya waktu itu posisinya Bi Emi ada di bagian ujung angkot di bangku panjang, sedangkan keempat orang itu ada di bangku pendek. Jadi Bi Emi harus menunggu keempat orang tersebut turun dulu barulah ia turun. Setelah keempat orang itu turun, ia pun segera turun dan menyerahkan ongkos pada abang sopir. Kembalian uang Bi Emi adalah uang yang diterima dari keempat orang tersebut. Langsunglah ia kantongi uang itu.

Ia pun segera berjalan tergesa-gesa takut ketinggalan empat orang itu. Untunglah ternyata empat orang tersebut masih ada. Ia pun mulai turun tangga pertama dan keempat orang itu ada beberapa anak tangga di depannya. Saat melewati sungai kecil dan akan turun tangga kedua, tiba-tiba keempat orang yang berada beberapa meter di depannya tiba-tiba menghilang begitu saja. Kontan Bi Emi terkejut dan segera teringat korban longsor itu. Ia membeku ketakutan tak bisa bergerak. Lalu tiba-tiba empat orang itu ada di hadapannya kembali seraya berkata, “kenapa bi?”

Bi Emi tak bisa bicara atau berjalan, hanya menatap keempat orang itu. Ingin sekali ia lari namun kakinya serasa dicor ke beton. Akhirnya bi Emi berbalik dan merangkak ke atas, berniat naik kembali ke jalan mobil. Ya ia merangkak karena kakinya tak bisa digerakkan sama sekali, dan bukannya merangkak di tangga ia malah merangkak di rerimbunan semak di samping tangga. Namun Bi Emi tak menghiraukannya, yang ada di pikirannya segera berada di jalan mobil.

Sesampainya di atas, kakinya sudah bisa digerakkan kembali. Tanpa pikir panjang ia berlari ke arah utara menuju gang P, berniat naik ojeg. Padahal jarak dari gang C ke gang P lumayan jauh, namun ia tak mau nunggu angkot. Apalagi angkot di daerahku jarang, ia sudah tak sanggup berada di jalan itu lagi.

Singkat cerita tibalah ia di pangkalan ojeg dengan ngos-ngosan. Tukang ojeg pun kaget melihat keadaan Bi Emi. Ya pasti kagetlah, Bi Emi lari seperti dikejar banteng, dan celana bi Emi robek-robek, karena melewati semak berduri. Setelah Bi Emi sadar keadaannya barulah ia merasa perih karena tersayat duri, tadi ia tak merasakannya sama sekali.

“Bi kenapa?” salah satu tukang ojeg bertanya.

“Tadi, tadi saya lihat korban longsor,” hanya itu yang bi Emi katakan.

Tukang ojeg belum sadar apa yang dikatakan bi Emi. Mereka hanya mengangkat bahu dan segera mempersilahkan bi Emi naik ojeg. Tanpa pikir panjang bi Emi segera naik dan ngebutlah ojeg itu menuju rumahnya. Sesampainya di dekat rumahnya, bi Emi turun dan merogoh kantong untuk membayar ongkos ojeg. Ia terkejut ketika yang ia ambil adalah daun dengan bau yang sangat harum. Ia teringat kembali kembalian dari abang angkot. Ia ingat betul kembalian ini dari uang keempat orang tersebut. Bi Emi pun duduk terhenyak, kontan tukang ojeg segera bertanya ada apa. Bi Emi pun menceritakan pengalamannya dari awal hingga akhir. ‘Mimpi apa aku semalam,’ itulah yang dituturkan bi Emi kala itu.

Kejadian yang menimpa Bi Emi ini ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Udah ketemu setan, kaki berdarah-darah, uang raib pula. Besoknya berita tersebut segera menyebar di seluruh kampung. Dan warga berbondong-bondong menjenguk bi Emi sekaligus ingin melihat daun yang harum itu. Dan dodolnya ada orang yang meminta daun itu untuk dijadikan jimat. Ck ck ck.

Ini gang C tempat menghilangnya keempat orang tersebut. Ini tangga kedua dan aku fotonya agak di tengah-tengah tangga.




gang C, tangga kedua
Foto ini diambil olehku sendiri baru-baru ini saat melewati gang C. Entahlah saat itu aku hanya ingin foto-foto gak jelas ja… hehe
oh ya Foto ini diambil saat siang hari terik, ba’da dzuhur.

Lihatlah gambar yang ditandai, itu apa ya?
kata keluargaku itu kaya si poci,, entahlah..

ooo

Kejadian 5

Yang ini juga lumayan lama. Waktu itu kira-kira jam sebelas malam Pak E baru pulang dari pasar. Pak E ini memang selalu pulang malam. Biasanya ia tak menemui apa-apa saat lewat gang C, namun malam ini perasaannya gak enak. Tapi ia tak menggubrisnya.

Pak E telah melewati tangga pertama dan sungai kecil. Saat melewati tangga kedua perasaannya makin tak karuan tapi ia menghiraukannya. Ia bersiap-siap menyalakan senter, karena di anak tangga paling bawah dekat jembatan, lampu jalan selalu mati. Dengan senter di tangannya, ia pun mulai turun anak per anak tangga. Tiba-tiba terdengar suara menggelinding dari atasnya. Kontan ia bertanya-tanya, “Apa itu?”

Lalu ada sesuatu menggelinding melewatinya, bentuknya bulat seperti bola. Karena saat itu remang-remang ia tak bisa melihat jelas apa itu. Benda itu menggelinding sampai di anak tangga paling bawah. Perasaannya makin gak enak, bulu kuduknya pun merinding seketika. Namun ia mencoba untuk tidak memikirkannya. Ia terus turun anak per anak tangga sampai tiba di lampu jalan yang mati, dan ia pun menyalakan senter. Dari jarak agak jauh ia melihat benda tersebut masih ada di bawah, di jembatan, menghalangi jalan. Ia turun satu anak tangga lagi dan sampailah di jembatan.

Ia memperhatikan benda tersebut, warnanya hitam. Apa itu?

Karena benda itu menghalangi jalan mau tak mau ia harus menyingkirkannya. Ia pun memegang benda tersebut dengan tangan kirinya, dan alangkah terkejutnya ia ketika tahu ternyata benda itu adalah kepala manusia dengan mata hitam dan bibirnya menyeringai. Tanpa pikir panjang ia langsung membuangnya dan lari terbirit-birit. Ia berlari sepanjang jalan, naik tangga, lewat perkampungan, sawah, pemakaman kecil, hingga sampailah di kampungku. Setelah sampai rumahnya barulah ia berhenti dengan ngos-ngosan. Kontan istrinya kaget melihat wajah pucat suaminya dan napasnya ngos-ngosan. Pak E langsung menceritakan kejadian itu ke istrinya, dan esoknya tersebarlah berita itu.

Warga di perkampungan sekitar gang C memberitahu bahwa hantu itu biasa mereka sebut hantu gorolong, karena selalu menggelinding dari atas ke bawah tangga. Dan sering menunjukkan wujudnya ketika mati lampu.





Ini tempat lampu jalan mati dan jembatan ditemukannya hantu gorolong.

tanda panah merah menunjukkan lampu jalan yang selalu mati.
tanda panah biru menunjukkan jembatan.

Aku foto ini dari beberapa anak tangga dari atas.

Ooo

Nah segitu dulu ya, nanti aku lanjutkan kejadian lainnya..

Maaf ya kalau ceritanya membosankan dan tulisannya acak-acakan, aku tak sempet edit. Untuk kebenaran cerita ini aku tidak tahu pasti, karena aku tak mengalaminya sendiri… naudzubillah jangan sampe deh..
Yang jelas saat itu kampungku sempet geger karena kejadian ini…

Makasih buat akang teteh yang udah sempetin baca
Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan..

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Jalan Angker ke Kampungku ….


Assalamu’alaikum Wr.Wb

Mumpung ada waktu aku mau share cerita lain…

Ok, selama ini aku sering menceritakan tentang santet atau tumbal yang dialami aku dan keluargaku. Sekarang aku ingin menceritakan kejadian-kejadian seram di jalan yang dilewati untuk sampai ke kampungku, dan penampakan-penampakan yang sering dilihat disana. Mungkin lain kali aku akan menceritakan kembali kisah santet, guna-guna, atau hampir dijadikan tumbal yang menimpa keluargaku.

Seperti yang kukatakan, kampungku yang disebut kampung bala oleh Pak Kyai, tidak hanya seram karena banyaknya pesugihan dan dukun santet disana, tetapi juga banyak yang melihat penampakan-penampakan. Namun yang akan kuceritakan disini bukan penampakan di kampungku namun di jalan yang harus dilewati jika akan ke kampungku.

Kampungku terletak di daerah pedalaman yang tidak dilewati angkutan umum, sehingga harus jalan kaki selama kurang lebih 30 menit atau pun naik ojeg. Jika jalan kaki harus melewati gang, sebut saja gang C. Sedangkan jika naik ojeg jalan yang dilewati adalah gang P. Kedua jalan tersebut sama-sama angker.

Sekarang aku ingin bercerita jalan gang C. Banyak yang melihat penampakan disana. Kejadian-kejadian ini aku dengar ada yang dari sumbernya secara langsung, ada juga yang dari mulut ke mulut. Maklum kampungku bisa dibilang tidak terlalu besar, sehingga setiap peristiwa akan cepat menyebar seperti api di musim kemarau, baik itu kejadian menyeramkan, memalukan, atau menyenangkan. Apalagi ibu-ibunya bisa dikatakan hobi sekali bergosip… hehee. Alhamdulillah untukku sendiri tidak pernah melihat penampakan disana. Naudzubillah, jangan sampe deh…

Sebelumnya aku ingin menggambarkan rute jalan gang C ini sampai ke rumahku. Ketika kita turun dari angkot kita akan disuguhkan dengan tangga yang mengarah ke bawah dan agak gelap karena dikelilingi hutan bambu. Kita harus turun kira-kira belasan anak tangga lalu akan ada sungai kecil dan di dekatnya ada pemakaman kecil yang mengapit tangga setapak. Setelah melewati jembatan kita harus turun puluhan anak tangga lagi. Lalu akan ada sungai yang lebih besar, dan harus melewati jembatan bambu untuk melewatinya.

Kemudian kita berjalan sebentar di jalan setapak lalu naik puluhan anak tangga, sampai mencapai anak tangga paling atas. Disini hutan bambu berakhir. Di tengah-tengah tangga kita akan menemukan kembali pemakaman kecil. Setelah melewati tangga-tangga tersebut, kita sampai di perkampungan kecil, yang ujungnya adalah persawahan. Kita harus melewati pekampungan dan persawahan itu, dan paling akhir ada pemakaman kecil yang sering disebut ‘astana leutik’. Barulah sampai di kampungku. Sepanjang jalan ini terkenal angker. Apalagi di bagian tangga dan hutan bambu, sawah, dan astana leutik.

Maaf kalau penggambarannya kurang jelas dan membingungkan.

ooo

Kejadian 1

Kejadian ini terjadi sudah sangat lama. Saat itu ada tukang sayur keliling, sebut saja Mang O. Mang O harus berangkat malam-malam untuk belanja agar paginya bisa langsung didagangkan. Ia berangkat kurang lebih jam 2 malam, dan harus melewati jalan gang C. Ia berjalan dengan terburu-buru, disamping karena takut juga agar bisa cepat-cepat sampai ke jalan mobil.

Saat mulai memasuki tangga gang C, mang O langsung disapa oleh hutan bambu. Otomatis suasana menjadi mencekam dengan sesekali suat kriet dari pohon bambu menemani perjalanan Mang O. Untunglah di tangga pertama ini lampu jalan masih hidup sehingga keadaan tidak terlalu gelap. Namun Mang O sudah menyiapkan korek api karena di tangga berikutnya yang sehabis melewati sungai besar, lampu jalan selalu mati. Entahlah karena apa, walaupun lampu itu diganti dengan yang baru, lampu itu tidak mau hidup. Akhirnya warga membiarkannya begitu saja dan jika kita melewati tangga itu warga harus menyiapkan penerangan sendiri, baik itu senter atau korek api.

Mang O turun tangga dengan tergesa-gesa. Ketika sampai di tengah tangga yang ada pemakaman kecil, tiba-tiba lampu jalan mati. Otomatis suasana menjadi gelap gulita. Dengan jantung bertalu-talu mang O segera mencari-cari korek api di kantungnya. Akhirnya ia menemukannya dan dengan menghela napas lega ia menyalakannya. Namun kelegaannya tidak bertahan lama, karena ketika ia melihat di hadapannya ada sesosok yang tak pernah ia perkirakan. Ia ternganga ketakutan melihat Miss Kuntaw sejengkal di hadapannya. Tubuhnya membeku seketika, tidak bisa bergerak sama sekali. Ia hanya menatap miss kuntaw sampai miss ini tiba-tiba membuka mulutnya dan tertawa geli, hihihihihihiii.

Suara tawanya membangunkan kebekuan tubuh mang O. Dengan perlahan-lahan ia mundur sambil masih memperhatikan Miss Kuntaw yang tertawa. Dan setelah jarak yang cukup lebar memisahkan mereka, ia pun berbalik dan lari terbirit-birit. Namun suara miss kuntaw tetap mengikutinya. Entah apakah miss ini mengikutinya atau tidak, ia tidak berani menengok. Yang ada di pikirannya adalah kembali ke rumah tercintanya. Ia terus berlari melewati perkampungan, sawah, pemakaman dengan tertawa miss kuntaw mengiringinya. Akhirnya sampailah ia di rumahnya dan langsung menggedor-gedor pintu rumahnya.

“Bu,bu..” ia terus menggedor-gedor pintu.

Pintu dibuka dan muncullah istrinya dengan raut wajah bingung. “Loh Pak kok balik lagi?”

Namun Mang O tak menjawab. Dengan terburu-buru ia melewati istrinya di ambang pintu dan masuk ke kamarnya langsung menarik selimutnya. Suara miss kuntaw ini terus terngiang-ngiang di telinganya. Istrinya mengikutinya ke kamar dan menatap bingung ke arah suaminya.

“Ada apa Pak?” tanya istrinya lagi.

“Nanti saja bu ceritanya,” hanya itu yang dikatakan mang O dan ia pun langsung menguburkan dirinya dalam selimut.

Barulah esoknya mang O menceritakan kepada istrinya perihal pertemuannya dengan miss ini, dan berita ini pun langsung menyebar luas. Semenjak itu mang O pun berhenti menjadi tukang sayur. Namun baru-baru ini mang O kembali melakoni pekerjaannya menjadi tukang sayur, mungkin karena sekarang ia sudah punya motor sehingga tak perlu lewat jalan itu lagi. Dan hari minggu Mang O menceritakan kembali petualangannya bertemu dengan miss kuntaw dulu.

ooo

Kejadian 2

Kejadian ini juga udah lama, masih dengan tukang sayur. Hanya tukang sayur ini adalah wanita, sebut saja bi I. Saat itu ia berangkat kira-kira jam 4 untuk belanja. Dengan was-was ia berangkat. Alhamdulillah perjalanan sampai sekarang lancar-lancar saja, tidak ada apa-apa. Ia telah melewati sawah, perkampungan, turun tangga, dan melewati jembatan bambu. Saat ia mulai naik tangga untuk sampai ke jalan mobil, dari bawah ia melihat di tangga atas ada perempuan berbaju putih. Waktu itu ia tak berpikir macam-macam, lah wong udah mau subuh, jadi ia pikir itu orang yang mau berbelanja juga. Ia sangat senang lah, “asyik ada teman,” pikirnya kala itu.

Ia naik dengan terburu-buru agar bisa cepat-cepat sampai. Tapi pas udah mulai dekat, kok ada yang aneh. Perempuan itu menunduk dan rambutnya sangat panjang. Terus pas ia lihat kakinya, ternyata ia melayang. Kontan ia ketakutan. Tanpa pikir panjang ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit. Untunglah perempuan itu tidak mengikutinya atau menampakkan wajahnya. Mungkin ia bisa pingsan kalau hal itu sampai terjadi.

ooo

Kejadian 3

Yang ini juga udah lama, saat tetehku masih bekerja. Saat itu teteh lembur sehingga harus pulang malam kira-kira jam 9 malam. Untunglah waktu itu teteh berdua dengan temannya. Singkat cerita mereka turunlah dari angkot. Otomatis bang sopir bilang agar hati-hati. Maklum kalau dari atas, jalan ini seperti gua, gak terlihat seperti jalan. Teteh dan temennya hati-hati turun tangga pertama dan melewati sungai kecil.

Sebelum turun di tangga kedua, teman teteh berkata, “Ri kita pulang malam-malam gini takut ih.”

“Iya, ta.” tetehku otomatis menjawab.

Mereka pun melanjutkan perjalanannya menuruni tangga kedua ini. Disini perasaan mereka udah gak enak, bulu kuduk berdiri. Apalagi suasananya sangat sunyi, senyap, mencekam, dan remang-remang. Hanya sesekali suara kriet pohon bambu menemani perjalanan mereka. Dan dodolnya mereka lupa untuk membaca doa, malah mengobrol sepanjang jalan.

Mereka pun mulai melewati jembatan, jalan di jalan setapak, dan naik tangga lagi. Setelah sampai perkampungan mereka bisa sedikit bernapas lega. Sekarang mereka jalan lebih santai, namun teteh belum bisa menghilangkan perasaan gak enak di hatinya. Saat melewati musholla, kan ada lampu jalan, otomatis bayangan kan bisa terlihat. Nah disitu teteh melihat ada tiga bayangan, satu lagi bayangannya agak jauh di belakang. Waktu itu teteh cuma nyangka kalau itu orang.

Teteh pun berkata ke temannya, “ta, kita nunggu orang lain yang di belakang yuk, biar lebih rame.”

“Hah?”

“Itu, bayangannya udah terlihat, kayanya dia gak terlalu jauh.”

Teman teteh pun melihat bayangan, “Oh iya Ri.”

Mereka pun menunggu orang itu. sudah lama menunggu kok orangnya gak ada-ada.

“Ri, kok dia gak datang-datang?”

“Iya ta, padahal tadi bayangannya udah terlihat.”

Pas mereka melihat lagi di bayangan, bayangannya masih ada tiga, dan jaraknya masih sama seperti tadi. Perasaan teteh dan temannya jadi lebih gak enak.

“Kita terusin ja yuk jalannya,” tetehku berkata.

Mereka pun berjalan tergesa-gesa, saat ada lampu jalan otomatis teteh melihat bayangan dan ternyata bayangannya masih ada tiga, satu lagi mengikuti mereka agak jauh di belakang. Teteh dan temannya pun berjalan lebih cepat, melewati sawah dan pemakaman. Saat melewati pemakaman akhir kan ada pohon kelapa dan lampu jalan, teteh melihat bayangannya sudah hilang begitu saja, hanya ada dua. Namun mereka masih berjalan dengan cepat. Saat sampai di rumah, teteh langsung menceritakan kejadian itu ke ibuku.

Ibu pun berkata, “Mungkin ia berniat mengantarkan kalian, karena tadi kalian bilang takut. Makanya kalau jalan malam-malam jangan bilang takut atau berani. Kalau ada yang bertanya bilang ja ‘Laahaula walaa Quwwata Illaa Billaahil ‘aliyyil ‘adziim.”

Semenjak itu tetehku tidak berani berkata macam-macam saat pulang malam.

ooo

Ini hanya segelintir kejadian, nanti aku akan post lagi yang lebih baru. Karena sampai sekarang pun masih banyak yang melihat penampakan disana, tapi memang jalan itu sekarang jarang dikunjungi apalagi kalau malam-malam, banyak yang lebih memilih naik ojeg soalnya, begitu juga dengan aku… heee…

Maaf kalau ceritanya membosankan dan tulisannya acak-acakan. Soalnya aku gak edit dulu, jadi kata-katanya juga ada yang baku, ada yang engga. maklum kuliah udah aktif kembali.

Oh ya setiap cerita yang aku posting dengan tag kisah nyata, berarti cerita itu benar-benar terjadi. Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas itu nyata. Kalau tidak percaya juga tidak apa-apa, itu kan hak manusia. Memang mungkin ada yang susah dicerna akal atau ada yang seperti rekayasa, tapi memang itulah yang terjadi, walaupun aku gak tahu apakah ada kurang atau lebihnya dari cerita asli, karena ingatan manusia kan tidak terlalu tajam. Apalagi pengalaman hidup itu banyak sekali. Terus untuk dialognya, udah aku terjemahkan ke bahasa indonesia, jadi mungkin ada yang tidak sama persis, tapi insya Allah maknanya sama.

Akhir kata Makasih buat akang teteh yang udah nyempetin baca
Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan…

Wassalamu’alaikum Wr.Wb



Cerita Selanjutnya >> Jalan Angker ke Kampungku 2

2 Pengalaman Aneh di SMP


Published under Cerita Misteri Jabodetabek, Tempat Berhantu

Halo, nama gw Eda. Gw sekarang kelas 1 SMP. Gw mau bagi-bagi cerita gw pas semester 1 kemaren.


1. Penampakan di Kota Tua

Gw sama teman-teman gw pergi ke kota tua (bukan study tour, tapi jalan-jalan bareng teman aja). Kita perginya naek busway, tapi karena gw berangkatnya sore, nyampenya malem. Gw disitu sebenernya baru pertama kali juga ke kota tua. Nah, pas di suatu gedung yang keliatan banget udah tua, gw sama teman ber empat foto-foto.

Beberapa hari kemudian, gw sama teman gw si A pergi ke tukang cetak foto buat nyetak foto-foto itu. Semua fotonya kan totalnya ada 20, tapi 7 foto hasilnya bagus, 5 foto agak buram gitu, dan 6 foto justru hitam kelam (padahal udah pake flash).

Nah! sisanya gw liat ada cewek pake baju batik sekolah gw dan berkerudung! Gw sama teman-teman bingung. "Tapi, kayaknya itu muka, gw familiar gitu" kata si O. Pas diliat-liat, satu teman gw si Y langsung nunjuk fotonya sambil jerit "ASTAGFIURLOH! ITU KAN SI C! ANAK KELAS 8B YANG MENINGGAL SEHABIS MOS ITU!" jerit si Y ketakutan.
Langsung semua foto kecuali 7 foto yang hasilnya sempurna itu DIBAKAR sama kita! soalnya kita ngeri, takutnya malah gentayangan deket kita gitu.. Hiii!


2. Dibimbing Boneka Rajut

Gw sama teman-teman kan disuruh bawa benang rajut pas pelajaran seni budaya karena kita mau bikin boneka rajut. Gw bikin amburadul (karena gw ga mudeng sama intruksinya). Tapi, bikinan si A buagggus banget! dia bikin boneka dirinya sendiri dengan rambutnya yang lebat sama matanya yang hitam.

Tapi, gw heran... mata dia itu coklat terang, bukannya hitam. Pas gw tanya, dia bilang "Benang coklat gw abis buat bikin sepatunya". Gw dengernya cuma ber-ooh ria aja.

Terus, di suatu malem gw mau nginep di rumah si A. Pas sampe sana, gw ngeliat ada anak kecil berambut lurus dengan rambut lebatnya warna hitam sama matanya yang hitam pekat. "Loh? tu bocah kok pakaian sama mukanya kayaknya gw kenal ya?", waktu itu gw belum mudeng, jadi gw mikir kayak gitu.

Tiba-tiba dia lari dan ga tau kenapa firasat gw nyuruh gw ngejar dia! Gw kejar dia sampai ke lapangan. Pas gw sampe sana itu anak udah ilang! Baru gw sekitar 10 langkah mau keluar dari lapangan, gw liat di pojok ada cewek pingsan sama sebuah sepeda yang rusak. Pas gw deketin, sumpah ternyata itu si A! Gw langsung jejeritan apa lagi gw ngeliat kepalanya ngucur darah banyak. Orang-orang pun pada dateng ke arah si A terus bawa dia ke puskesmas.

Pas dia sadar, dia cerita kalau tadi sore pas dia lagi asik-asiknya main sepeda, dia kesandung batu terus jatoh dari sepeda. Kepalanya dia ngebentur batu yang dia sandung! tapi, dia bilang sebelum dia pingsan waktu itu dia ngeliat ngeliat anak kecil yang kayak boneka rajutnya lagi jongkok ngeliat dia dengan muka khawatir. Gw di situ baru sadar! kalo anak kecil itu ternyata boneka rajut itu! Pas gw tanya dimana bonekanya, dia bilang "ilang". Tapi gw terima kasih banget sama boneka itu udah ngasih tau si A pingsan!


Segini dulu ya ceritanya. Maaf gak serem dan ancur-ancuran.

cerita seram terpendek

suatu hari ada orang terakhir yg hidup di bumi sedang duduk di suatu ruangan
ada yg mengetuk pintu.|tamat

Manusia Harimau dari Sumatera


Oleh :KhundulKomo Maret 21,2007 http://www.ceritaonlineku.com/

Aku baru saja akan merebahkan diri di pembaringan ketika cahaya halilintar berkelebat menyambar menerangi angkasa. Cahayanya menyusup ke dalam rumah melalui celah jendela diiringi gelegar petir yang sangat keras. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba pintu rumah sepeti ada yang mengetuk. Aku segera pergi ke ruang tamu, ingin mengetahui siapa gerangan orang yang bertamu di malam buta dan dalam keadaan hujan hebat sepeti ini.Jantungku serasa akan melompat keluar rongganya ketika kudapati di hadapanku di depan pintu berdiri sesosok mahkluk berbadan tegap, dengan tinggi sekitar 2 meter. Dari kaki sampai perut berbentuk seperti badan harimau dewasa, namun dari dada sampai kepala berwujud kepala laki-laki berjenggot dan berkumis putih, kedua tangannya menyerupai kaki depan harimauAku keheranan, masuk dari mana mahluk ini? Padahal pintu rumah belum sempat kubuka. Seolah-olah dia dapat menembus pintuku yang tertutup, atau mungkin masuk lewat seberkas cahaya kilat melalui lobang kuncinya. Bulu kudukku berdiri, namu sesaat kemudian aku dapat menguasai diri.“ Siapakah tamuku ini sebenarnya?” tanyaku setelah mengumpulkan semua semangat yang ada dalam dadaku.Mahluk yang menggetarkan nyaliku itu tiba-tiba menyeringai, atau mungkin maksudnya tersenyum padaku, lalu dia berkata,”Jangan kaget dan takut padaku, saudara! Aku adalah seorang utusan dari para penghuni rimba raya Sumatera!” “Apa maksudmu datang dan masuk ke rumahku?”“Aku akan mengadukan tentang nasib buruk yang sedang menimpa bangsa kami, yaitu bangsa harimau”“Mengadukan nasib, apa maksudmu?” tanyaku keherananAneh juga mahluk ini. Padahal bukan sekarang ini bangsa harimau sedang mengganas dan mengganggu manusia, mengapa justru utusan mereka yang datang dan katanya akan mengadukan tentang nasib mereka? Demikian pikiranku yang masih kebingungan berusaha mencerna.“Ya, ya, aku juga bisa menduga apa yang saudara pikirkan. Janganlah teburu-buru menyalahkan bangsa kami, tetapi harus diselidiki dulu sebab musababnya. Bangsa manusia lebih beruntung dari bangsa harimau. Sebab bangsa manusia punya tempat mengadu, sedang bangsa kami tidak.

Sabtu, 23 Februari 2013

Pocong Kecil di Pohon Kelapa

Published under Cerita Horor Jawa, Hantu Pocong

Hy, gw Empiz dari Serang. Sebelumnya gw minta maaf kalau dalam penulisan gw belepotan. Hehe.. maklum pemula. Langsung aja nie...

Gw inget malem ntu malem minggu 2009, tanggal dan bulan nya gw lupa. Pintu studio musik yang kami rental ada yang mengetok dari luar sana (ea iya lah, orang waktu nya udah abis). Gw dan teman gw sepulang nge-jam ngerasa cacing2 di perut kami semua nya pada demo.

Sebut aja si C yang biasa nya otak nya kere (apa lagi dompet nya) nyelutuk "Loe loe semua pada laper?". "Memang loe punya duit C?" sambar si H. "Kaga siih.. tapi gw punya ide". "Allaahh... tumben2n loe punya ide, paling2 ide loe ide busuk" sambar si A. Hehe sorry gan, terhanyut dalam perbincangan...

Setelah diskusi yang panjang dan lebar kami pun menjalankan aksi ide nya si C buat nyulik burung tetangga nya si A yang kebetulan kandang burung nya di belakang rumah nya si A. Semoga kalian semua ngerti apa arti dari kata "nyulik" hehe...

Disini gw ngerasaen hal yang aneh, yang tanpa sadar nya gw, sejak tadi gw merhatiin satu poon yaitu poon kelapa. Kami ber-4 yang bagi tugas melancarkan aksi dan gw sama si H kebagian buat jaga2, si C dan si A yang menjalankan nya.

Saat hasil buruan 1 sudah didapat, mata gw tertuju pada sosok poon yang tadi saya perhatiin makin lama makin ada yang gw liat, yakni kaen putih yang bersih dan bercahaya, yang sering disebut pocong, duduk rilex di poon kelapa ntu. Tapi aneh nya kenapa ga persis seperti kata orang2 yang bilang bahwa pocong ntu kotor, dekil dan ancur dah poko nya, dan kenapa yang gw liat ini kecil.

Setelah lama nya gw perhatiin sosok ntu tadi, teman gw si H nyadarin gw yang sejak tadi liatin tuh sosok. "Udah Pis, ntar gw ceritain siapa dia ntu". "Loe liat juga?". "Ya.. tapi loe jangan bilang2 sama si A dan si C, coz mereka ber-2 penakut".

Selanjutnya, gw lari karena kaget burung yang mereka ambil di dalem kandang ntu berontak, teman2 gw pun pada lari ngikutin arah lari gw. Tiba nya di base camp, si H pun nyeritaen siapa tadi dan ternyata pocong tadi kakak nya si A yang meninggal dulu karena sakit keras waktu kecil.

To be continue...

Buat yang baca sorry kalau cerita gw kurang serem dan geje. Thank buat kesempatan nie, lain kali gw ceritain yang lebih dari ini.