Sabtu, 23 Februari 2013

Misteri Rumah Kosong di Daerah Ku


Published under Cerita Misteri Semarang, Rumah Hantu

Assalammualaikum wr.wb. Hai, saya Muhammad Wignyo di Semarang saya mau ngeshare cerita lagi. Mungkin bagi anda cerita ini ngga serem ya...

Ok, to take the point... gini di dekat rumah saya itu terdapat rumah kosong yang dulunya buat Gereja, tapi warga ngga setuju kalau bangunan itu buat Gereja. Akhirnya tu Gereja di kick dari Pucang Gading dari daerah saya, trus itu bangunan kosong kurang lebih 4 tahun lah.

Waktu itu saya masih kelas 4 (kalo ngga salah). Waktu itu ada kucing kecil lucu aku kejar-kejar eh, ngga taunya masuk ke dalam rumah kosong itu. Ya udah aku intip dari jendela. Masya Allah... di situ ada seorang kakek-kakek berjenggot panjang berdiri menghadap samping (kelihatan wajahnya). Yah, waktu itu aku biasa aja mungkin itu rumah udah ditempatin, eh pas nanya temanku katanya belum ada yang beli rumah itu. Waduh, perasaan ku jadi ngga karuan akhirnya aku pulang dengan penuh tanda tanya...

Setelah 2 tahun kejadian itu berlalu, rumah itu akhirnya dibeli oleh saudaranya temanku (Dimas). Banyak kejadian yang di alamin oleh keluarga itu tapi aku ngga tau pastinya soalnya aku bukan keluarga besar nya :P kwkwkwk...

Kejadian aneh tidak hanya dialamin oleh saudaranya temanku, tetangga nya pun ikut merasakan. Jadi waktu itu temanku yang bernama Adito (juga pernah share cerita di sini) itu main ke rumah si Rian (temannya). Mereka mainan hot wheels di teras saudaranya temanku (namanya anak SD ya gitulah). Pas lagi asik-asiknya main hot wheel, salah satu mobil nya masuk di dalam rumah saudaranya temanku. Akhirnya mereka izin sama saudaranya temanku untuk mengambil hot wheel nya. Saat masuk mereka di peringati "Hati-hati ya, kalau masuk berdua berarti keluar harus berdua", kata saudaranya temanku...

Lalu mereka masuk dan mencari hot wheel nya. Setelah ketemu temanku yang bernama Dito ini keluar duluan. Alhasil temannya Dito ini (si Rian ) bingung, katanya jalan nya itu kayak jauh banget padahal cuman berapa langkah dari pintu depan. Karena bingung akhir nya si Rian teriak minta tolong, untung nya langsung di tolongin ama saudaranya temanku... kalau ngga, ngga tau dah nasib nya.

Tes Mental 2 ending


Published under Surabaya, Tempat Berhantu

Sekitar 5 menit di pos aku melanjutkan perjalan lagi ke pos selanjutnya melewati tempat angker ke 2. 5 menit jalan akhirnya sampai juga ditempat angker ke 2 (rumah dipinggir sungai yang disediakan oleh pemerintah untuk rumah penjaga pengairan sawah. Rumah ini belakang, samping kiri dan kanannya pohon bambu semua dan dari tahun 1990 sudah kosong dan sampai sekarang tahun 2011 tetap masih kosong). Di rumah ini orang sering mendengar suara cewek nangis, ketawa atau bernyanyi. Ditempat yang ke 2 ini untungnya aku tidak melihat yang aneh-aneh cuma merinding saja. Walaupun merinding aku terus jalan menuju pos berikutnya, dipos ini aku cuma ditendang dan dipukuli saja (itu mah makanan sehari-hari saat latihan, jadi sudah biasa saja).

Selesai di pos itu trus aku jalan lagi menuju pos 3 melewati tempat angker ke 3 (pos 3 harus melewati jalan setapak yang sebelah kanannya sungai untuk irigasi sawah, trus sebelah kirinya sungai besar yang sepanjang pinggiran sungainya banyak pohon bambu, panjang jalan setapaknya sekitar 100m). Dari awal memasuki jalan ini bulukuduk ku sudah berdiri semua, sampai dipertengahan jalan aku berhenti sambil membaca doa-doa yang aku bisa. Mau tau kenapa aku berhenti dan berdoa? itu karena aku melihat asu baong (anjing yang besarnya kaya pedet, sebutan untuk anak sapi di desaku) muncul dari pohon nangka dekat sungai irigasi menyebrang jalan setapak menuju sungai besar dikiri jalan setapak tadi.

Sesudah asu baong tadi hilang aku baru lega dan melanjutkan perjalanan lagi. Tapi baru jalan sepuluh langkah tiba-tiba dari arah pohon bambu sungai besar tadi ada bayangan putih loncat didepanku (sekitar 1m didepanku). Karena kaget, aku mundur satu langkah trus aku baca doa lagi karena bayangan putih tadi ternyata Mr.pocong (aku gak tau mukanya Mr.pocong karena dia membelakangiku). Walaupun bulukuduk ku tetap berdiri entah kenapa aku gak merasa takut dan terus melihatnya sambil baca doa yang aku bisa sampai Mr.pocongnya loncat kepohon bambu lagi. Setelah Mr.pocong pergi aku jalan lagi menuju pos selanjutnya yang terletak didepan pemakaman.

Di pos ini aku dikerjain/dipukulin lagi seperti di pos sebelumnya. Selesai di pos ini aku disuruh masuk kepemakaman untuk ngambil sabuk yang gak tau ditaruhnya disebelah mana. Sampai di pintu kuburan aku bengong sendiri karena ditengah-tengah kuburan aku melihat ada cewek cantik (umurnya sekitar 20an tahun) memakai daster warna kuning gading. Dia duduk diatas maesan kuburan (batu untuk menulis nama dari orang yang dikubur disitu) dekat lilin (didalam pekuburan dikasih lilin biar siswa yang masuk kakinya gak kena batu maesan). 5 menit bengong, aku dikagetkan oleh suara kakak pelatihku:

Pelatih : Woii kenapa berdiri disitu. Cepat cari sabuk sana
Aku : Iya kak

Selesai aku menjawab aku menoleh lagi ke cewek tadi tapi cewek itu sudah gak ada (kalau itu orang gak mungkin karena dia ditengah-tengah pemakaman dan gak mungkin dia bisa lari sembunyi dengan waktu yang cuma 3 detik saat aku ditegur pelatih). Ya sudahlah pikirku yang penting aku nyari sabuk dulu saja. Setelah nyari 10 menit akhirnya ketemu juga sabuknya. Sesudah sabuk ketemu aku keluar dari pemakaman untuk melanjutkan perjalanan ketempat latihan...

Perjalanan dari pemakaman ketempat latihan gak usah ditulis ya karena gak ada kejadian yang aneh-aneh diperjalanan selain di pos-pos tempat aku dikerjain dan dipukuli oleh kakak-kakak pelatih.

Nah itulah awal dari hilangnya rasa takutku pada hantu/setan dan sejenisnya, walaupun ada tapi cuma dikit heheeee...

Dan maaf kalau tulisan diatas kacau dan gak nyambung.

Tes Mental 1


Published under Surabaya, Tempat Berhantu

Hai Salam kenal, aku biasa dipanggil Bazonk oleh temen-temen didesaku. Aku ingin berbagi cerita seram dari pengalamanku sendiri. Sebelumnya minta maaf kalau tulisannya kacau/berantakan dan gak nyambung dan aku juga gak bisa nulis bahasa gaul. Langsung saja ke ceritanya :

Dulu waktu masih kecil, aku sangat amat penakut sama yang namanya hantu/setan dan sejenisnya. Saking penakutnya, sampai-sampai tidur siang pun harus ada yang nemanin entah itu ibu, bapak atau kakak-kakakku, dan bila bangun tidur trus gak ada orang didekatku aku langsung teriak sambil nangis. Heheeee penakut sekali kan hehee

Sampai umurku sekitar 12 tahun aku masih penakut, sampai aku ikut latihan bela diri yang sudah merakyat di desa tempat aku tinggal (desa di daerah kabupaten Madiun). Itupun kalau berangkat ketempat latihan tidak ada temannya aku juga gak berangkat ketempat latihan, maklum masih penakut heheeee karena jadwal latihannya itu malam hari dari habis isya sampai lewat jam 12 malam. Untungnya ada tetanggaku yang juga ikut latihan, jadi aku dan tetanggaku yang umurnya 1 tahun lebih tua dariku ini biasa berangkat dan pulang sama-sama dari/ke tempat latihan.

Walaupun sudah sering pulang tengah malam tapi aku masih aja penakut (maklum bawaan dari bayi kali). Sampai kenaikan tingkat (kenaikan sabuk dari sabuk hitam ke sabuk jambon) itu aku masih penakut. Nah ini yang paling aku takutkan dari berbagai jenis latihan yang aku terima dari latihan itu, karena setiap kali ada kenaikan tingkat itu ada tes mental untuk mengetahui seberapa kuat mental para siswa latihan itu (oh ya kalau masih dilatih itu disebut siswa).

Penjelasan dikit masalah tes mental : tes mental itu dimana para siswa harus mengelilingi desa dengan rute yang sudah ditetapkan oleh pelatih. Rute dimulai dari tempat latihan trus jalan kaki menuju pemakaman umum dan kembali lagi ke tempat latihan. Minimal rute yang ditempuh itu sekitar 2 km dan minimal rutenya itu melewati 3 tempat yang dikenal angker oleh penduduk desa. Tiga tempat yang angker itu belum termasuk kuburan yang menjadi tempat tujuan untuk mengambil sabuknya dan 3 tempat angker lagi untuk rute menuju tempat latihan.

Malam sebelum tes mental dilaksanakan aku sudah ketakutan (membayangkan akan ada hantu yang menampakkan diri). Beruntung sekali, sore sebelum aku berangkat latihan, aku ketemu sama mbah M (Mbah M ini adiknya kakekku alm. Sekarang mbah M juga sudah alm). Trus aku ngomong sama mbah M kalau aku mau ikut tes mental dan aku takut. Akhirnya sama mbah M aku dikasih bacaan (maaf bacaannya tidak bisa ditulis). Awalnya sih aku gak yakin sama bacaannya mbah M karena bacaan itu sering aku dengar lewat candaan anak-anak dan orang-orang desaku. Nah dengan modal bacaan itu akhirnya aku berangkat ketempat latihan.

Jalannya tes mental : sekitar jam 11 malam, kakak-kakak pelatih sudah membagikan nomor urut untuk 28 siswa dan aku kebagian nomor 17 (1 nomor untuk 1 siswa). Sekitar jam 12 malam tes mentalpun dimulai. Nomor 1 mulai jalan dan sekitar 10 menit giliran nomor 2 dan begitu seterusnya sampai tiba giliranku untuk jalan. Dan saat kakak pelatih memanggil nomor 17 aku langsung tegang bukan main, trus sama kakak pelatih aku disuruh berdoa.

Selesai berdoa aku jalan untuk mengelilingi desa, dari tempat latihan terus jalan sampai pada perempatan belok kiri menuju jembatan (peninggalan jaman Belanda), jarak dari perempatan sekitar 50m (jembatan ini penghubung desaku dan desa tetangga, jembatan ini terkenal angker, banyak warga desa yang melihat penampakan-penampakan di jembatan ini). Sampai di jembatan tiba-tiba ada bayangan hitam dan besar lewat cepat sekali dari pohon bambu sebelah kiri jembatan ke pohon mangga di kanan jembatan kira-kira 2m didepanku.

Tanpa komando bulukuduk ku langsung berdiri, tapi anehnya aku tidak merasa takut tapi cuma kaget saja, mungkin gara-gara berdoa dulu sebelum jalan atau karena bacaan dari mbah M. Tanpa pikir panjang aku jalan lagi menuju pos yg dijaga kakak-kakak pelatih (jaraknya sekitar 50m dari jembatan tadi). Oh ya setiap habis melewati tempat yang angker, disitu disediakan pos untuk jaga-jaga kalau-kalau ada terjadi sesuatu pada siswa atau untuk ngerjain siswa yang ikutan tes. Sampai di pos, disitu sudah disiapkan wajan penggorengan untuk merias wajah siswa dengan pantat wajan itu heheeee. Jadi mau gak mau wajah siswa pada item semua, jadi kalau ditempat gelap yang kelihatan cuma mata sama giginya saja, keren kan heheeee,

bersambung...
(karena ceritanya terlalu panjang, maka akan dibagi dalam 2 part)

Penunggu Vila 2 ending

Published under Cerita Seram, Kuntilanak Lanjutan dari penunggu vila 1 ... Setelah dia tenang, dia bertanya kepada pacarnya "Lu ngapa ninggalin gw?". Wahyu menjawab "Tadi lu, gw cari gk ada". Lalu kamipun Tadi itu gw bangun ke kamar mandi, gw liat Wahyu masih tidur disamping gw dengan tertutup selimut. Pas gw keluar kamar, cewek gw manggil gw dari kamarnya, gw jalan ke kamar cewek gw. Gw buka pintu dan masuk ke kamarnya, kamarnya itu gelap banget sama bau aroma melati gitu. Gw nyalain hp buat senter, gw sorot ke arah tempat tidur, dan ternyata gw liat ada cewek gw lagi tidur sendiri dengan tertutup selimut. Dalam hati, "Kok sendiri", gw gk curiga apa2 tuh, paling cewenya Wahyu lagi ke kamar mandi. Gw berjalan menuju ranjang, gw duduk di bibir ranjang. Gw bilang "Yank, ada apa manggil2?", tapi gk ada jawaban. Trus gw diem dan mainin hp. Sekitar 1 menitan, gw angkat selimut dikakinya, gw pegang kaki cewek gw. Gw kaget, kok kakinya kaya kaki orang mati gk ada aliran darahnya. Trus gw kayak ngerasa megang rambut yang tebal diantara kakinya, diiringi suara cekikikan... Gw arahin sinar hp ke arah palanya, lalu apa yang terjadi... Itu bukan cewek gw. Itu Perempuan mukanya ketutup rambut tebal yang acak-acakkan dan tidak lain itu adalah KUNTILANAK. Gw lari keluar kamar sambil kedengeran suara ketawa yang keras. Gw turun kalian udah ada disini. Setelah mendengar cerita Defri kami semua bergidik merinding mendengarnya. Kamipun tetap berada di teras villa sambil membaca doa2 dan gangguan itu hilang. Kamipun tertidur di teras, dingin sekali walaupun sudah memakai jaket. Keesokkan harinya kamipun berkemas meninggalkan villa itu dan bertanya ke pemilik villa apa yang sebenarnya terjadi didalam villa itu. Kata pemilik villa "Dulu bangunan itu bekas rumah orang belanda yang sudah puluhan tahun terbengkalai, meskipun begitu bangunannya tetap terlihat kokoh dan indah lalu saya beli dan merenovasi bangunannya, dan jadilah villa yang di sewakan. Mungkin penunggu itu tidak senang kepada pemuda yang suka berbuat kurang sopan disini. Biasanya tidak ada gangguan". Itulah keterangan dari pemilik vila. Memang diantara teman saya ada yang berpacaran dan suka mojok berduaan ditempat yang sepi, dan aku tidak tahu apa yang mereka lakukan. Demikianlah pengalaman kami menginap di villa angker itu. Terimakasih meluangkan waktunya untuk membaca Pesan saya : jangan pacaran sembarangan tempat, nanti berakibat seperti teman saya.

Penunggu Vila 1

Published under Cerita Misteri Jabodetabek, Rumah Hantu Hai saya Bili. Waktu itu saya dan teman-teman berlibur di sebuah villa di Puncak Bogor. Kami berangkat dari rumah pukul 2 sore dengan menggunakan bis sewaan. Setelah menempuh 3 jam perjalanan naik turun gunung, kami pun sampai di vila. Turun dari bis, hawa gunung yang dingin menerpa tubuh kami. Hilanglah semua rasa penat dan bosan selama perjalanan. Kesan pertama melihat vila ini terlihat lumayan indah, walaupun sedikit terlihat menyeramkan karena bangunannya seperti bangunan belanda, ditambah lokasinya yang terpencil dari rumah warga sekitar. Kami pun masuk villa mebagi2kan kamar. Vila ini terdapat 6 kamar, 2 dilantai atas 4 dibawah. Aku kedapatan di lantai bawah. setelah itu kami beristirahat dan menyiapkan segala sesuatu untuk acara bakar nanti malam. Singkat cerita, malampun tiba. Sekitar pukul 9 malam kita mulai menyalakan api diatas kayu yang sudah disiapkan sebelumnya, dagingpun dipanggang. Sambil menunggu makanan matang, kami menghabiskan waktu. Ada yang bercerita-cerita, bernyanyi dengan gitar, main catur dan kegiatan lainnya sambil menikmati masa muda. Beberapa saat kemudian makananpun matang, kami makan2 bersama. Setelah makan, kami semua tetap di halaman sambil melakukan kegiatan yang sama. Tak terasa waktu sudah pukul 1 malam. 2 orang teman kami (Defri dan Wahyu) merasa ngantuk dan ingin segera tidur, mereka pun mengajak pacarnya masing-masing untuk menemaninya. Berangkatlah mereka masuk kedalam villa dan menaiki tangga untuk ke kamarnya (kebetulan kamar mereka kebagian di lantai 2). 1 jam kemudian kamipun merasa ngantuk dan kami putuskan untuk tidur di kamar masing2. Kamarku berada di paling depan dekat ruang tamu, aku tidur bersama 2 orang temanku. 10 menit kemudian aku dikagetkan dengan suara wanita menangis. Ku tanya teman-temanku ternyata mereka mendengar juga, suara itu bersumber dari pohon beringin yang ada disamping villa. Lalu kamipun keluar kamar, dan tak kusangka teman-temanku yang lain baru keluar juga dari kamar masing2, disertai 3 temanku yang berada di lantai 2. Lalu aku bertanya, "Apa kalian denger suara orang nangis?", mereka mengiyakan pertanyaanku. Lalu kami semua berkumpul di teras villa. Setelah berkumpul suara itu hilang. Ketiga teman kami yang dilantai 2 bertanya, "Kemana Defri, dia tidak ada diatas". "Kami tidak tahu, bukannya bersama kalian diatas?", saya menimpali. 5 menit kemudian kami dikagetkan dengan suara tawa khas kuntilanak yang bersumber dari lantai 2, disertai dengan suara langkah lari. Dan ternyata itu Defri yang lari seperti orang ketakutan. Dengan keringat bercucuran dia berlari menghampiri kami. Sambil terengah2 dia bilang "Ada kuntilanak diatas" dengan nada bicara seperti orang gugup. Pacarnyapun memeluknya dan kami coba menenangkan Defri. Kisah masih berlanjut...

Salah Mayat

Published under Cerita Horor Jawa, Cerita Seram Hai saya Rud3ny, saya punya cerita nih di tahun 90 an. Di daerah Kebumen ada dua orang gadis yang merantau ke Jakarta, sebut saja Surti dan Iyem. Sesampainya di Jakarta Surti dan Iyem bekerja menjadi pembantu rumah tangga, Surti di Pulo Gadung dan Iyem di Kemayoran. Surti beruntung punya majikan yang baik, lain hal nya dengan Iyem yang punya majikan galak dan suka memukul, akhirnya Iyem memutuskan untuk mencari pekerjaan baru. Akhirnya Iyem dapat lowongan pekerjaan tapi Iyem bermasalah dengan KTP, KTP nya hilang, Iyem memutuskan meminjam KTP Surti, Iyem yakin tidak ketahuan karena ciri-ciri fisik mereka hampir sama. Saat Iyem hendak memfoto copy KTP, Iyem tertabrak truk bermuatan pasir, menyebabkan kepala nya pecah. Akhirnya dipulangkanlah jenazah Iyem ke Kebumen, tetapi polisi memulangkan jenazah ke tempat Surti, karena Iyem memegang KTP Surti. Orang tua Surti kaget anaknya meninggal dengan kepala yang hancur. Aneh nya di desa itu banyak warga yang bertemu sosok Iyem, ada yang bertemu dia di kuburan Surti (padahal itu mayat Iyem), ada warga yang bertemu Iyem sedang menangis di jalan, tetapi dengan santai nya warga menyapa, "Yem sudah pulang ya? kapan sampai?" tetapi Iyem diam saja. Orang tua Iyem kaget mendengar banyak warga yang bertemu Iyem. Saat tengah malam ibu nya Iyem buang hajat (kalau di desa toilet nya di kebun), tidak sengaja ibu nya Iyem mendengar suara tangisan. Penasaran dengan suara itu dicarilah sumber suara itu. Dari kejauhan ibu nya Iyem kaget melihat anak nya yang sedang menangis di pinggir sawah dengan berlumuran darah, ibu nya langsung berlari melewati jalan setapak di pinggir sawah. Begitu sampai disitu Iyem menghilang, Di hari kelima Iyem meninggal, Surti pulang ke Kebumen. Dia pulang karena perasaan yang tidak enak dan tidak ada kabarnya Iyem (maklum jaman dulu HP masih mahal jadi jarang yang punya). Sesampainya Surti sampai di Kebumen malam hari, Surti kaget di rumahnya ada tahlil an. Pas Surti mengucapkan salam, sontak warga kaget dan pergi kocar-kacir. Akhirnya Surti menceritakan semua nya, dan Surti kaget Iyem meninggal begitu tragis.

Jalan Angker ke Kampungku ….

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Mumpung ada waktu aku mau share cerita lain…

Ok, selama ini aku sering menceritakan tentang santet atau tumbal yang dialami aku dan keluargaku. Sekarang aku ingin menceritakan kejadian-kejadian seram di jalan yang dilewati untuk sampai ke kampungku, dan penampakan-penampakan yang sering dilihat disana. Mungkin lain kali aku akan menceritakan kembali kisah santet, guna-guna, atau hampir dijadikan tumbal yang menimpa keluargaku.

Seperti yang kukatakan, kampungku yang disebut kampung bala oleh Pak Kyai, tidak hanya seram karena banyaknya pesugihan dan dukun santet disana, tetapi juga banyak yang melihat penampakan-penampakan. Namun yang akan kuceritakan disini bukan penampakan di kampungku namun di jalan yang harus dilewati jika akan ke kampungku.

Kampungku terletak di daerah pedalaman yang tidak dilewati angkutan umum, sehingga harus jalan kaki selama kurang lebih 30 menit atau pun naik ojeg. Jika jalan kaki harus melewati gang, sebut saja gang C. Sedangkan jika naik ojeg jalan yang dilewati adalah gang P. Kedua jalan tersebut sama-sama angker.

Sekarang aku ingin bercerita jalan gang C. Banyak yang melihat penampakan disana. Kejadian-kejadian ini aku dengar ada yang dari sumbernya secara langsung, ada juga yang dari mulut ke mulut. Maklum kampungku bisa dibilang tidak terlalu besar, sehingga setiap peristiwa akan cepat menyebar seperti api di musim kemarau, baik itu kejadian menyeramkan, memalukan, atau menyenangkan. Apalagi ibu-ibunya bisa dikatakan hobi sekali bergosip… hehee. Alhamdulillah untukku sendiri tidak pernah melihat penampakan disana. Naudzubillah, jangan sampe deh…

Sebelumnya aku ingin menggambarkan rute jalan gang C ini sampai ke rumahku. Ketika kita turun dari angkot kita akan disuguhkan dengan tangga yang mengarah ke bawah dan agak gelap karena dikelilingi hutan bambu. Kita harus turun kira-kira belasan anak tangga lalu akan ada sungai kecil dan di dekatnya ada pemakaman kecil yang mengapit tangga setapak. Setelah melewati jembatan kita harus turun puluhan anak tangga lagi. Lalu akan ada sungai yang lebih besar, dan harus melewati jembatan bambu untuk melewatinya.

Kemudian kita berjalan sebentar di jalan setapak lalu naik puluhan anak tangga, sampai mencapai anak tangga paling atas. Disini hutan bambu berakhir. Di tengah-tengah tangga kita akan menemukan kembali pemakaman kecil. Setelah melewati tangga-tangga tersebut, kita sampai di perkampungan kecil, yang ujungnya adalah persawahan. Kita harus melewati pekampungan dan persawahan itu, dan paling akhir ada pemakaman kecil yang sering disebut ‘astana leutik’. Barulah sampai di kampungku. Sepanjang jalan ini terkenal angker. Apalagi di bagian tangga dan hutan bambu, sawah, dan astana leutik.

Maaf kalau penggambarannya kurang jelas dan membingungkan.

ooo

Kejadian 1

Kejadian ini terjadi sudah sangat lama. Saat itu ada tukang sayur keliling, sebut saja Mang O. Mang O harus berangkat malam-malam untuk belanja agar paginya bisa langsung didagangkan. Ia berangkat kurang lebih jam 2 malam, dan harus melewati jalan gang C. Ia berjalan dengan terburu-buru, disamping karena takut juga agar bisa cepat-cepat sampai ke jalan mobil.

Saat mulai memasuki tangga gang C, mang O langsung disapa oleh hutan bambu. Otomatis suasana menjadi mencekam dengan sesekali suat kriet dari pohon bambu menemani perjalanan Mang O. Untunglah di tangga pertama ini lampu jalan masih hidup sehingga keadaan tidak terlalu gelap. Namun Mang O sudah menyiapkan korek api karena di tangga berikutnya yang sehabis melewati sungai besar, lampu jalan selalu mati. Entahlah karena apa, walaupun lampu itu diganti dengan yang baru, lampu itu tidak mau hidup. Akhirnya warga membiarkannya begitu saja dan jika kita melewati tangga itu warga harus menyiapkan penerangan sendiri, baik itu senter atau korek api.

Mang O turun tangga dengan tergesa-gesa. Ketika sampai di tengah tangga yang ada pemakaman kecil, tiba-tiba lampu jalan mati. Otomatis suasana menjadi gelap gulita. Dengan jantung bertalu-talu mang O segera mencari-cari korek api di kantungnya. Akhirnya ia menemukannya dan dengan menghela napas lega ia menyalakannya. Namun kelegaannya tidak bertahan lama, karena ketika ia melihat di hadapannya ada sesosok yang tak pernah ia perkirakan. Ia ternganga ketakutan melihat Miss Kuntaw sejengkal di hadapannya. Tubuhnya membeku seketika, tidak bisa bergerak sama sekali. Ia hanya menatap miss kuntaw sampai miss ini tiba-tiba membuka mulutnya dan tertawa geli, hihihihihihiii.

Suara tawanya membangunkan kebekuan tubuh mang O. Dengan perlahan-lahan ia mundur sambil masih memperhatikan Miss Kuntaw yang tertawa. Dan setelah jarak yang cukup lebar memisahkan mereka, ia pun berbalik dan lari terbirit-birit. Namun suara miss kuntaw tetap mengikutinya. Entah apakah miss ini mengikutinya atau tidak, ia tidak berani menengok. Yang ada di pikirannya adalah kembali ke rumah tercintanya. Ia terus berlari melewati perkampungan, sawah, pemakaman dengan tertawa miss kuntaw mengiringinya. Akhirnya sampailah ia di rumahnya dan langsung menggedor-gedor pintu rumahnya.

“Bu,bu..” ia terus menggedor-gedor pintu.

Pintu dibuka dan muncullah istrinya dengan raut wajah bingung. “Loh Pak kok balik lagi?”

Namun Mang O tak menjawab. Dengan terburu-buru ia melewati istrinya di ambang pintu dan masuk ke kamarnya langsung menarik selimutnya. Suara miss kuntaw ini terus terngiang-ngiang di telinganya. Istrinya mengikutinya ke kamar dan menatap bingung ke arah suaminya.

“Ada apa Pak?” tanya istrinya lagi.

“Nanti saja bu ceritanya,” hanya itu yang dikatakan mang O dan ia pun langsung menguburkan dirinya dalam selimut.

Barulah esoknya mang O menceritakan kepada istrinya perihal pertemuannya dengan miss ini, dan berita ini pun langsung menyebar luas. Semenjak itu mang O pun berhenti menjadi tukang sayur. Namun baru-baru ini mang O kembali melakoni pekerjaannya menjadi tukang sayur, mungkin karena sekarang ia sudah punya motor sehingga tak perlu lewat jalan itu lagi. Dan hari minggu Mang O menceritakan kembali petualangannya bertemu dengan miss kuntaw dulu.

ooo

Kejadian 2

Kejadian ini juga udah lama, masih dengan tukang sayur. Hanya tukang sayur ini adalah wanita, sebut saja bi I. Saat itu ia berangkat kira-kira jam 4 untuk belanja. Dengan was-was ia berangkat. Alhamdulillah perjalanan sampai sekarang lancar-lancar saja, tidak ada apa-apa. Ia telah melewati sawah, perkampungan, turun tangga, dan melewati jembatan bambu. Saat ia mulai naik tangga untuk sampai ke jalan mobil, dari bawah ia melihat di tangga atas ada perempuan berbaju putih. Waktu itu ia tak berpikir macam-macam, lah wong udah mau subuh, jadi ia pikir itu orang yang mau berbelanja juga. Ia sangat senang lah, “asyik ada teman,” pikirnya kala itu.

Ia naik dengan terburu-buru agar bisa cepat-cepat sampai. Tapi pas udah mulai dekat, kok ada yang aneh. Perempuan itu menunduk dan rambutnya sangat panjang. Terus pas ia lihat kakinya, ternyata ia melayang. Kontan ia ketakutan. Tanpa pikir panjang ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit. Untunglah perempuan itu tidak mengikutinya atau menampakkan wajahnya. Mungkin ia bisa pingsan kalau hal itu sampai terjadi.

ooo

Kejadian 3

Yang ini juga udah lama, saat tetehku masih bekerja. Saat itu teteh lembur sehingga harus pulang malam kira-kira jam 9 malam. Untunglah waktu itu teteh berdua dengan temannya. Singkat cerita mereka turunlah dari angkot. Otomatis bang sopir bilang agar hati-hati. Maklum kalau dari atas, jalan ini seperti gua, gak terlihat seperti jalan. Teteh dan temennya hati-hati turun tangga pertama dan melewati sungai kecil.

Sebelum turun di tangga kedua, teman teteh berkata, “Ri kita pulang malam-malam gini takut ih.”

“Iya, ta.” tetehku otomatis menjawab.

Mereka pun melanjutkan perjalanannya menuruni tangga kedua ini. Disini perasaan mereka udah gak enak, bulu kuduk berdiri. Apalagi suasananya sangat sunyi, senyap, mencekam, dan remang-remang. Hanya sesekali suara kriet pohon bambu menemani perjalanan mereka. Dan dodolnya mereka lupa untuk membaca doa, malah mengobrol sepanjang jalan.

Mereka pun mulai melewati jembatan, jalan di jalan setapak, dan naik tangga lagi. Setelah sampai perkampungan mereka bisa sedikit bernapas lega. Sekarang mereka jalan lebih santai, namun teteh belum bisa menghilangkan perasaan gak enak di hatinya. Saat melewati musholla, kan ada lampu jalan, otomatis bayangan kan bisa terlihat. Nah disitu teteh melihat ada tiga bayangan, satu lagi bayangannya agak jauh di belakang. Waktu itu teteh cuma nyangka kalau itu orang.

Teteh pun berkata ke temannya, “ta, kita nunggu orang lain yang di belakang yuk, biar lebih rame.”

“Hah?”

“Itu, bayangannya udah terlihat, kayanya dia gak terlalu jauh.”

Teman teteh pun melihat bayangan, “Oh iya Ri.”

Mereka pun menunggu orang itu. sudah lama menunggu kok orangnya gak ada-ada.

“Ri, kok dia gak datang-datang?”

“Iya ta, padahal tadi bayangannya udah terlihat.”

Pas mereka melihat lagi di bayangan, bayangannya masih ada tiga, dan jaraknya masih sama seperti tadi. Perasaan teteh dan temannya jadi lebih gak enak.

“Kita terusin ja yuk jalannya,” tetehku berkata.

Mereka pun berjalan tergesa-gesa, saat ada lampu jalan otomatis teteh melihat bayangan dan ternyata bayangannya masih ada tiga, satu lagi mengikuti mereka agak jauh di belakang. Teteh dan temannya pun berjalan lebih cepat, melewati sawah dan pemakaman. Saat melewati pemakaman akhir kan ada pohon kelapa dan lampu jalan, teteh melihat bayangannya sudah hilang begitu saja, hanya ada dua. Namun mereka masih berjalan dengan cepat. Saat sampai di rumah, teteh langsung menceritakan kejadian itu ke ibuku.

Ibu pun berkata, “Mungkin ia berniat mengantarkan kalian, karena tadi kalian bilang takut. Makanya kalau jalan malam-malam jangan bilang takut atau berani. Kalau ada yang bertanya bilang ja ‘Laahaula walaa Quwwata Illaa Billaahil ‘aliyyil ‘adziim.”

Semenjak itu tetehku tidak berani berkata macam-macam saat pulang malam.

ooo

Ini hanya segelintir kejadian, nanti aku akan post lagi yang lebih baru. Karena sampai sekarang pun masih banyak yang melihat penampakan disana, tapi memang jalan itu sekarang jarang dikunjungi apalagi kalau malam-malam, banyak yang lebih memilih naik ojeg soalnya, begitu juga dengan aku… heee…

Maaf kalau ceritanya membosankan dan tulisannya acak-acakan. Soalnya aku gak edit dulu, jadi kata-katanya juga ada yang baku, ada yang engga. maklum kuliah udah aktif kembali.

Oh ya setiap cerita yang aku posting dengan tag kisah nyata, berarti cerita itu benar-benar terjadi. Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas itu nyata. Kalau tidak percaya juga tidak apa-apa, itu kan hak manusia. Memang mungkin ada yang susah dicerna akal atau ada yang seperti rekayasa, tapi memang itulah yang terjadi, walaupun aku gak tahu apakah ada kurang atau lebihnya dari cerita asli, karena ingatan manusia kan tidak terlalu tajam. Apalagi pengalaman hidup itu banyak sekali. Terus untuk dialognya, udah aku terjemahkan ke bahasa indonesia, jadi mungkin ada yang tidak sama persis, tapi insya Allah maknanya sama.

Akhir kata Makasih buat akang teteh yang udah nyempetin baca
Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan…
di minta saran kritik dan komen nya yah
Wassalamu’alaikum Wr.Wb